KULTUM Pimpinan Cabang Aisyiyah Bandung Tanggal : 19 Nopember 2023 Oleh : M. Darwi S.Ag 
 Tema : ihtiyar menyelamatkan semesta Alhamdulillah pada siang hari ini kita dapat berkumpul di majlis yang terhormat di majlis ilmu yang tentunya merupakan rahmah dan hidayah Alloh SWT.

Perjuangan dalam menggerakan pikir rasa dan laku perbuatan kita semuanya tidak lepas dari petunjuk dan rahmah dari Sang pemberi Rahmah dan petunjuk sehingga wajib bagi kita berterima kasih kepada-Nya dengan berucap alhamdulillah summa walhamduliilah. 

Sholawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada junjungan kita nabi akhir zaman seorang nabi yang mencerahkan dan membawa perubahan yang sangat besar bagi kita dan dunia. Pergi dari zaman kebodohan yakni kejahiliahan menuju zaman keislaman seperti saat ini dan tentunya syafaat baginda rosululloh Muhammad SAW senantiasa diharapkan di hari akhir zaman hari berakhirnya kehidupan yakni hari kiamat yang merupakan rahasia Alloh SWT. Wajib bagi kita berucap allohumma sholli 'ala muhammad wa 'ala 'ali muhammad. 

Ibu-ibu jamaah 'aisyiah warga muhammaadiyah yang berbahagia. 
Pada kesempatan ini ada sebuah kata yang sering kita dengan yakni ihtiyar. Kata ini mengandung pengertian sebagai sebuah usaha. Kata ikhtiar baik secara leksikal maupun terminologi Islam memiliki dua arti; pertama berarti pilihan, dan kedua berarti usaha atau syarat untuk mencapai maksud. Dari dua arti tersebut, kata ikhtiar melekat makna positif dan selalu berorientasi kepada kebaikan. Sehingga mengutip Al Qur'an : 1. Ta'awun adalah sikap kebersamaan, sikap saling memiliki, dan sikap saling membutuhkan antara sesama manusia. Mengutip buku Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah karya Harjan Syuhada dan Fida 'Abdilah, secara bahasa ta'awun memiliki arti saling menolong. Q.S Al Maidah : 2 وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ Artinya: ”Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwa lah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat." يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ2 2. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. 2. Amar ma'ruf Nahi Munkar (Ali Imron : 104) وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ Artinya : "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung". Ikhtiar Menyelamatkan Semesta, Memaknai Tema Milad ke-111 Muhammadiyah Tanggal 18 Nopember 2023 Ikhtiar Menyelamatkan Semesta adalah tema milad ke-111 Muhammadiyah. Tema milad ini berakar secara historis dalam pemikiran keagamaan, ideologi dan keorganisasian di Muhammadiyah yang mengalami pematangan dari waktu ke waktu. Tema milad ini pula memiliki makna khusus bagi Muhammadiyah dan anggotanya. Ikhtiar Menyelamatkan Semesta setidaknya terkait dengan tiga hal berikut: Pertama, pandangan Muhammadiyah tentang Islam; kedua, karakter dan watak organisasi Muhammadiyah sebagai gerakan gerakan dakwah dan tajdid; ketiga, pandangan Muhammadiyah terkait problem-problem multidimensional, mulai dari krisis kemanusiaan, kemiskinan struktural, degradasi ekologi, konflik dan peperangan, hukum dan hak asasi manusia, serta berbagai hal lainnya. Di usia ke-111 tahun, Muhammadiyah meneguhkan diri sebagai gerakan Islam yang telah melewati berbagai situasi dan telah menjadi pelopor di berbagai bidang kehidupan bangsa. Termasuk ikut mendirikan negara Republik Indonesia melalui niat tulus dan kerja tanpa pamrih dari para pimpinan, anggota, kader, dan penggerak amal usahanya. Tujuan Kesemestaan Islam bagi Muhammadiyah Cita-cita para pendiri Muhammadiyah adalah meneguhkan Islam sebagai agama yang mencerahkan dan menjadi rahmatan lil ‘alamin. Dalam alam pikiran Muhammadiyah, Islam memiliki tujuan-tujuan kesemestaan yang menuntun setiap muslim supaya mengerahkan segenap ikhtiar untuk mewujudkannya. Pada Muktamar ke-34 tahun 1959, Prof. Abdul Kahar Mudzakkir mengurai tujuh karakter seorang muslim, yakni: (1) berjiwa tauhid yang murni dan beriman; (2) beribadah kepada Allah; (3) berbakti kepada kedua orang tua dan baik kepada kerabat; (4) memiliki akhlak tinggi dan halus perasaannya; (5) berilmu pengetahuan dan mempunyai kecakapan; (6) cakap memimpin keluarga, masyarakat, dan pemerintahan; (7) yakin dapat menguasai dan mempergunakan amal seisinya untuk kebaikan umat manusia yang akan dibawa pada bakti kepada Allah, tuhan semesta alam. Dari karakter-karakter muslim tadi, nomor ketujuh menampakkan dengan jelas tujuan-tujuan kerahmatan bagi alam semesta yang dibawa oleh Islam. Salah satu di antaranya adalah menjalankan tugas dakwah dengan mengimplementasikan kualitas keimanan dan ketaqwaan menjadi rangkaian amal di segala bidang kehidupan sehingga mencerahkan dan menjadi perwujudan keselamatan untuk alam semesta. Dakwah, Tajdid, dan Tujuan-Tujuan Kesemestaan Karakter dakwah Muhammadiyah adalah menebarkan risalah Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Dakwah bagi Muhammadiyah tidak sekedar menyampaikan (tabligh), tapi juga harus dilandasi oleh spirit tajdid (pembaruan). Sebagaimana alam semesta yang terus menerus berkembang, maka dakwah risalah Islamiyah tidak mungkin berhenti di tempat. Tidak dinamis. Dan kehilangan kekuatan dalam menjawab masalah zaman. Dakwah yang dilandasi oleh tajdid merupakan sikap keislaman Muhammadiyah dalam merumuskan, menyebarkan, dan mengembangkan pemikiran keagamaan. Manusia telah ditugaskan oleh Allah Swt untuk menjadi khalifah fi al-ardh, pengelola, penjaga, dan pelindung bumi. Maka, salah satu tujuan-tujuan kesemestaan yang menjadi tugas manusia adalah mencerahkan kehidupan manusia sehingga kehidupan di muka bumi ini tidak jatuh ke dalam kemalapetakaan. Hal ini telah ditegaskan dalam Keputusan Muktamar ke-43 tahun 1995 bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid mengemban tugas untuk menjawab berbagai tantangan peradaban, di antaranya: “proses global ini tampaknya semakin memperkeras konflik kepentingan, baik kepentingan ideologi, politik, ras, ekonomi, sosial, maupun kebudayaan, disertai ancaman akan kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan dan sistem kebudayaan umat manusia dalam semesta kehidupan universal.” Pada Muktamar ke-48 tahun 2022, dakwah dan tajdid Muhammadiyah ditujukan untuk menjaga kesinambungan dan mengembangkan tata kelola dalam hal perkhidmatan keumatan, perkhidmatan kebangsaan, perkhidmatan kemanusiaan, perkhidmatan perkhidmatan global, dan perkhidmatan masa depan. Ikhtiar yang Berkelanjutan Perjalanan Muhammadiyah di usianya yang ke-111 menunjukkan bahwa karakter dakwah dan tajdid Muhammadiyah adalah berkelanjutan. Rumusan-rumusan, langkah, dan tata kelola dakwah Muhammadiyah selalu menatap ke depan. Maka, Muhammadiyah selain berkepentingan untuk merawat soliditas ke dalam juga senantiasa mendorong diri untuk menginisiasi sesuatu yang baru di luar sana. Apa yang Muhammadiyah lakukan selama 111 tahun tersebut, berawal dari Yogyakarta, kini telah dan akan terus menembus sekat geografis. Kemerduan alunan biola yang dimainkan KH. Ahmad Dahlan untuk menjelaskan keselarasan nyawa Islam dan semesta alam ternyata tidak hanya menembus hati para muridnya 111 tahun lalu, tapi juga menembus dan menggerakkan jutaan orang untuk berteguh hati bersepakat pada misi Risalah Islam Berkemajuan. https://muhammadiyah.or.id/ikhtiar-menyelamatkan-semesta-memaknai-tema-milad-ke-111-muhammadiyah/

Comments

Popular posts from this blog

9 cara hidup bahagia menurut Islam

DEEP LEARNING BAGI GURU PAI DALAM PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL AI

pengajian rutin malam Selasa malam Rabu Minggu ke 3